Pemilu 2009, Demokrat yang fenomenal
Pemilihan umum legislatif sudah selesai, hasilnya juga sudah diketahui, beberapa lembaga survey mengumumkan hasil hitung cepat/ quick count: Partai Demokrat pemenang pileg 2009. Partai yang didirikan SBY ini mengalahkan dua partai papan atas yang menjadi pemenang di dua pemilu sebelumnya: PDIP dan Partai Golkar.
Spektakuler, two thumbs Up! Salut buat Partai Demokrat. Partai ini memang fenomenal. Pada pemilu 2004, sebagai partai baru, Demokrat langsung di urutan ke-4 dalam perolehan kursi DPR RI. Urutannya: Golkar, PDIP, PPP, dan Demokrat. Ini mengalahkan PKB yang dalam perolehan suara urutan ke tiga, tapi harus puas diurutan ke-6 dalam perolehan kursi dengan 52 kursi DPR.
Lagi-lagi pemilu 2009 Demokrat membuat kejutan, perolehan suara naik sampai 300%, dari sekitar 7 persen menjadi 20%. Memang ini baru hasil hitung cepat, tapi dari jaminan penyelenggara quick count, bahwa margin error sekitar 1%, perolehan suara (sebelum di tambah parpol yang tidak lolos PT) sekitar 20%)
Kehadiran dua partai baru dengan pimpinannya berlatar belakang militer: Hanura dan Gerindra juga belum bisa berbuat banyak. Dua partai baru ini masuk 10 besar, tapi perolehan suaranya masih terlalu jauh untuk menjadi lawan Demokrat.
Apa kelebihan Demokrat Demokrat? Sebenarnya saya melihat tidak ada yang istimewa dengan Demokrat selain figur SBY. Saya justru lebih melihat greget di PKS dan PDIP. PKS saya lihat lebih baik dalam pengkaderan dan pengemasan isu.
Juga PDIP, walaupun hanya berjualan sosok Megawati, namun militansi kader PDIP juga bagus, berkarakter. Wong Cilik, penerus Bung Karno, dan Merah. Keberasilan dalam membina kader di PDIP ditunjukkan dengan klaim PDIP telah menerbitkan 11 juta kartu tanda anggota. Sebuah prestasi yang bagus.
Tapi semua kalah sama Demokrat. Di Jakarta yang sebelumnya dikuasai PKS, Demokrat menang besar dengan 36%. Di Jawa Timur, Demokrat juga melemparkan PKB ke posisi 3.
Tidak ada yang istimewa dengan Demokrat selain SBY. Siapa kader Demokrat yang sudah menjadi tokoh setingkat di bawah SBY? Ketua Umumnya sendiri, Hadi Utomo tidak banyak yang tahu. Lebih populer Sutrisno Bachir dari PAN, Suryadarma Ali dari PPP, Muhaimin Iskandar dari PKB, atau Tifatul Sembiring dari PKS. Kader yang lain, Anas Urbaningrum dan Andi Malarangeng juga masih setingkat Staf Khusus presiden.
Tapi kita tahu, Demokrat berhasil menarik suara rakyat untuk memilihnya. Terlepas dari isu-isu kekacauan DPT, Demokrat berhasil.
Menurut saya sih, posisi SBY sebagai presiden sangat menentukan kemenangan Demokrat. Kebijakan Pemerintahan SBY - JK yang menurunkan harga BBM, kemudian proyek Bantuan Langsung Tunau, dan PNPM Mandiri menjadi kampanye efektif bagi DEmokrat. Kampanye gencar dengan slogan yang terkenal: "Lanjutkan", seakan memberi pesan kepada calon pemilih untuk lanjutkan memilih SBY. Sedangkan SBY identik dengan Demokrat.
Terlepas pro kontra, bahwa pretsasi itu seharusnya menjadi prestasi bersama, tidak bisa diklaim sebagai prestasi Demokrat, rakyat menganggap itu prestasi SBY.
Tapi ada pertanyaan, bagaimana di 2014, saat SBY tidak bisa lagi mencalonkan diri sebagai presiden. Apakah Demokrat juga tetap akan menjadi magnet? Bisa saja. Kalau selama lima tahun ke depan Demokrat bisa membangun jaringan politiknya, menciptakan tokoh-tokoh politik baru, dan menyenangkan hati rakyatnya.
Kalau tidak, partai-partai di bawahnya akan mengambil alih nomor satu.
posted on:4/10/2009 2:54:16 AM | by: meds | under: opini |
( 3 ) Komentar

